Keikhlasan Cinta

5 Januari 2010

Dan bila cinta telah tertanam di hati

Dan pengorbanan telah diberikan

Satu kata lagi yang mesti ada di hati

Yang tak boleh tidak dihadirkan

Keihlasan Cinta…

Tak semudah seperti yang dibayangkan

Keikhlasan Cinta…

Tak semudah seperti yang diucapkan

Keikhlasan Cinta………………..

Saat balasan tak sesuai yang diharapkan

Saat rasa tak sesuai yang diinginkan

Begitulah keikhlasan cinta diuji

Begitulah keikhlasan cinta dicoba

Duhai jiwa, waktu selalu berjalan maju tak pernah mundur..lambat laun engkau akan meninggalkan dunia menuju ke alam yang kekal.

Saat itu apa yang kau butuhkan di alam sana?

Jiwa: wahai diri, sungguh sebelum alam yang kekal ada tempat bersinggah diantara dua alam. disana aku terputus sudah dengan dunia. Namun aku masih berharap banyak agar aku mendapatkan kebahagiaan di alam kekal nanti dan di alam persinggahanku kelak.

Apa itu wahai jiwa? mumpung engkau masih hidup di dunia ini..maka utarakan lah wahai jiwa..

Jiwa: Ya benar, selagi raga ini masih terpaut dunia..maka akan ku utarakan apa yang akan aku butuhkan di tempat bersinggah dan di alam kekal nanti..

Ketahuilah aku berharap amalan yang pernah kita buat di dunia ini bisa bermanfaat dan menemaniku di alam sana. Selain itu tidak lagi yang bisa kita lakukan agar kebahagiaan bisa ku raih.

Namun, aku butuh orang lain saat aku tak lagi di dunia ini.

Doa anak ku, orang tua ku, isteri ku, kakak-adik ku, kerabat ku semuanya..maka doakanlah kebaikan untukku..

Apabila aku memiliki hutang..maka sampaikanlah pada anakku..lunasilah..semoga Allah membalas kebaikan kalian..

Apabila aku memiliki warisan..maka bagilah sesuai kitabullah..

Wasiatku dan nazar yang pernah kujanjikan..tolonglah dilaksanakan..

Teruskanlah kebaikan-kebaikan yang pernah aku kerjakan, semoga orang yang mencontohnya menjadikannya amal yang selalu mengalir bagiku..

Lanjutkanlah wahai anakku…untuk meneruskan hubungan silaturahim ke kerabat-kerabatku semasa aku hidup di dunia..

Dan tolong jagalah nama baikku, pabila aku telah mencoreng nama baikku sendiri..maka perbaikilah..sungguh aku akan bahagia disana karenanya

Saat ragaku terbujur kaku menjadi mayat..maka jadikanlah anakku sebagai imam sholat .. agar aku berbangga karenanya..

Terakhir, sempurnakanlah kebahagiaanku ini dengan terus menjadi anak yang sholeh…

Wahai Jiwa, apa kabarmu?

Kulihat hari ini engkau tengah galau..ada apakah gerangan? bukankah sebentar lagi Tahun Baru? Saat dimana hampir semua orang bergembira karena ada pergantian tahun baru. Saat dimana mereka berharap tahun baru akan lebih baik dari tahun sekarang. Lalu apa yang kau risaukan wahai jiwa?

— Jiwa:

Duhai sobatku, tidaklah aku risau melainkan karena semakin dekatnya masa itu. Masa perpisahan antara aku dengan dunia. Dimana jasad tak lagi dapat merasakan apa-apa yang tengah dirasakan kini. Masa dimana seluruh amal dipertanggungjawabkan dan berapa pula yang kita telah amalkan? itupun aku tak tahu apakah diterima atau tidak? benar atau salah?

Wahai jiwa, sungguh engkau telah menyadarkanku betapa selama ini aku tersalahkan akibat ilusi dunia ini. Aku kira kebahagiaan itu nampak dan nyata saat pergantian tahun. Namun rupanya, dibalik itu sungguh bertambahnya tahun justeru mengurangi masa hidup kita di dunia ini. Entah, amal yang ada sudah mencukupi atau tidak. Sudah benar atau tidak, sudah diterima atau tidak…ah, engkau telah mencabik-cabikku wahai jiwa dengan kesadaran ini. Namun aku berterimakasih denganmu, dan semoga aku bisa beramal dengan ilmu agar menjadi besar harapan bagi amalku untuk benar dan diterima-Nya. Dan aku akan menambah amalanku agar kelak dapat mengiringimu wahai jiwa bertemu dengan Rabb penguasa waktu dan alam seisinya ini.

Maafkan aku wahai Jiwa

30 Desember 2009

Duhai Jiwa, Telah lama aku melupakanmu. Sedangkan engkau senantiasa selalu setia menemaniku dan terus bersemayam di jasadku. Seharusnya engkaulah yang patut ku ajak bicara, ku beri segala kebutuhanmu, menyegarkanmu dari kedahagaan dan kelaparan.

Engkaulah yang paling dekat dengan ku wahai jiwa. Lalu aku justeru bercengkrama dengan selainmu, aku memenuhi perutku dengan makanan dan menyegarkan tenggorakanku dengan minuman. Memberikan pandangan indah ke mata, dan memberi wewangian untuk hidungku.

Mendengarkan segala hal yang menyenangkan telinga, mepercantik dan memperindah tubuh dengan pakaian yang bagus. Lalu apa yang engkau dapatkan wahai jiwa? padahal kebahagiaan hatiku letaknya ada di dirimu. Lalu engkau, wahai jiwa, tak mendapatkan asupan apapun dari ku.

Kini, aku sadari akan keberadaanmu. Dan aku memohon maaf padamu, selanjutnya aku akan terus berdialog dengan mu. Meski hanya sepatah kata, hanya agar engkau bahagia..bahagaimu tentu bahagiaku. Dan aku akan ajak engkau wahai jiwa, mengarungi kehidupanku. Kita saling menuntun, bertitian dalam titian jalan yang di ridhoi-Nya.

Tentramlah engkau wahai Jiwa, hingga saat memanggilmu menghadap sang pemilik Jiwa. Datanglah wahai jiwa dengan tenang bertemu dengan Dia dan mendapatkan segala kenikmatan dari-Nya.