Duhai jiwa,

Tak tega rasanya jika aku memandang dunia ini dengan mata yang bersinar

Bagaimana aku bisa mengagungkan dunia ini ? sedang sang pencipta dan pemiliknya telah menghinakan dunia.

Dijadikan dunia itu bak fatamorgana, yang hanya jadi batu ujian bagi manusia.

Duhai jiwa,

Miris rasanya melihat mereka yang terkulai mengejar dunia,

Mengengah nafas mereka, bahkan tak urung diantaranya saling menghantam dan menikam

Untuk mendapatkan secuil kenikmatan di dunia

Duhai jiwa,

Diantara mereka ada yang menjadi peminta-minta di antara sesamanya

Lupakah dia, bahwa ia adalah hamba dari Raja Yang Maha Kaya?

Lupakah dia, bahwa Ia selalu dekat dengan hamba-Nya?

Atau dia telah melupakanNya, bahkan menghindar dari-Nya?

Duhai jiwa,

Sedih rasanya mendengar rintihan mereka yang telah menghambakan kepada dunia

Merintih meminta kepada selain Allah

Meminta sesuatu dari dunia ini, yang dia sendiri tidak tahu apakah ini akan berakibat baik bagi dirinya atau tidak

Duhai jiwa,

Ini bukan berita palsu

Bukan pula cerita khayalan

Tapi kenyataan masih ada dimana-mana

Mereka yang meminta kepada selain Allah.

Kepada kubur dan mayit yang berada di dalamnya

Kepada pohon yang dikeramatkan

Kepada manusia yang telah pongah merasa dirinya telah menjadi tuhan

Duhai jiwa,

Berjanjilah terus bersamaku di dalam suka dan duka

Terus menjadi hamba Allah

Terus menjadikan-Nya satu, tak berbilang.

Hanya kepada-Nya lah kita bertawakkal dan hanya kepada-Nya lah kita memohon…

Iklan

Sulitnya meminta maaf

9 Februari 2010

Duhai jiwa,

Seandainya Tuhan tak menganugerahkan kata maaf ke dunia ini, tentu sedetikpun aku tak mau hidup disini.

Namun jiwa,

Apakah aku yang tak bersyukur atas anugerah besar itu, atau kah kelunya lidah ini mengucap maaf karena kebodohan diri ini? atau diri ini terlalu sombong untuk mengakui anugerah ini?

Duhai jiwa, katakan pada diri ini tentang maaf..

– Wahai diri,

Tak perlu bersedih atas apa yang ada, dan tak perlu bingung karena kau tak bisa mengucap maaf.

Karena sungguh maaf benar-benar anugerah dari Dia Yang Maha Lembut..Yang telah mencelupkan manusia dalam lautan kasih sayangnya hingga benar-benar melekatlah sifat-Nya yang Pemurah dan Penyayang itu pada mu.

Wahai Diri,

Lupakan saja kata sombong, bodoh, dan ingkar atas anugerah-Nya itu sebagaimana engkau pernah melupakan kata maaf sebelumnya.

Dan isilah kekosongan kata-kata tersebut dengan maaf, maaf, dan maaf.

Sungguh lisan yang terbiasa dengan maaf akan senantiasa ringan terucap disaat yang dibutuhkan kata maaf tersebut.

Biasakan saja wahai diri..ucapakanlah maaf, maaf, maaf, maaf, …..

Sehingga disaatnya tiba engkau harus mengucap maaf, engkau dapat merasakan nikmatnya anugerah besar ini.

Wahai Jiwa,

Apa kabarmu? mengapa hati ini selalu saja dirundung kekesalan, amarah dan kekecewaan. Bagaimana pula menghilangkannya?

Jiwa:

Kabar baik wahai Diri. Tak Perlu lah risau akan sempitnya hati dan sesaknya dada. Karena betapa sakitnya itu hanyalah sementara dan pasti kan berlalu..meskipun dia akan menghampirimu lagi.

Namun ketahuilah wahai diri,

Pangkal dari kesempitan hati dan sesaknya dadamu itu adalah kekecewaan.

Ya, engkau telah kecewa wahai diri. Engkau kecewa…atas segala apa yang telah engkau lakukan selama ini tidak mendapatkan balasan yang sesuai dengan bayanganmu.

Ya, engkau telah membayangkan begitu indahnya balasan atas segala apa yang kau lakukan.

Sebenarnya jika kau tak salah dalam membidik balasan, tentu kau tak akan kecewa. Karena sebaik-baik pemberi balasan hanyalah Dia yang kuasa, yang memberi balasan sesuai amal yang dilakukan hamba-Nya. Bahkan memberikan berlipatganda balasan.

Ya, engkau telah salah kepada siapa engkau meminta balasan…

Ya, engkau telah melupakan … KEIKHLASAN …

Duhai jiwa, waktu selalu berjalan maju tak pernah mundur..lambat laun engkau akan meninggalkan dunia menuju ke alam yang kekal.

Saat itu apa yang kau butuhkan di alam sana?

Jiwa: wahai diri, sungguh sebelum alam yang kekal ada tempat bersinggah diantara dua alam. disana aku terputus sudah dengan dunia. Namun aku masih berharap banyak agar aku mendapatkan kebahagiaan di alam kekal nanti dan di alam persinggahanku kelak.

Apa itu wahai jiwa? mumpung engkau masih hidup di dunia ini..maka utarakan lah wahai jiwa..

Jiwa: Ya benar, selagi raga ini masih terpaut dunia..maka akan ku utarakan apa yang akan aku butuhkan di tempat bersinggah dan di alam kekal nanti..

Ketahuilah aku berharap amalan yang pernah kita buat di dunia ini bisa bermanfaat dan menemaniku di alam sana. Selain itu tidak lagi yang bisa kita lakukan agar kebahagiaan bisa ku raih.

Namun, aku butuh orang lain saat aku tak lagi di dunia ini.

Doa anak ku, orang tua ku, isteri ku, kakak-adik ku, kerabat ku semuanya..maka doakanlah kebaikan untukku..

Apabila aku memiliki hutang..maka sampaikanlah pada anakku..lunasilah..semoga Allah membalas kebaikan kalian..

Apabila aku memiliki warisan..maka bagilah sesuai kitabullah..

Wasiatku dan nazar yang pernah kujanjikan..tolonglah dilaksanakan..

Teruskanlah kebaikan-kebaikan yang pernah aku kerjakan, semoga orang yang mencontohnya menjadikannya amal yang selalu mengalir bagiku..

Lanjutkanlah wahai anakku…untuk meneruskan hubungan silaturahim ke kerabat-kerabatku semasa aku hidup di dunia..

Dan tolong jagalah nama baikku, pabila aku telah mencoreng nama baikku sendiri..maka perbaikilah..sungguh aku akan bahagia disana karenanya

Saat ragaku terbujur kaku menjadi mayat..maka jadikanlah anakku sebagai imam sholat .. agar aku berbangga karenanya..

Terakhir, sempurnakanlah kebahagiaanku ini dengan terus menjadi anak yang sholeh…

Wahai Jiwa, apa kabarmu?

Kulihat hari ini engkau tengah galau..ada apakah gerangan? bukankah sebentar lagi Tahun Baru? Saat dimana hampir semua orang bergembira karena ada pergantian tahun baru. Saat dimana mereka berharap tahun baru akan lebih baik dari tahun sekarang. Lalu apa yang kau risaukan wahai jiwa?

— Jiwa:

Duhai sobatku, tidaklah aku risau melainkan karena semakin dekatnya masa itu. Masa perpisahan antara aku dengan dunia. Dimana jasad tak lagi dapat merasakan apa-apa yang tengah dirasakan kini. Masa dimana seluruh amal dipertanggungjawabkan dan berapa pula yang kita telah amalkan? itupun aku tak tahu apakah diterima atau tidak? benar atau salah?

Wahai jiwa, sungguh engkau telah menyadarkanku betapa selama ini aku tersalahkan akibat ilusi dunia ini. Aku kira kebahagiaan itu nampak dan nyata saat pergantian tahun. Namun rupanya, dibalik itu sungguh bertambahnya tahun justeru mengurangi masa hidup kita di dunia ini. Entah, amal yang ada sudah mencukupi atau tidak. Sudah benar atau tidak, sudah diterima atau tidak…ah, engkau telah mencabik-cabikku wahai jiwa dengan kesadaran ini. Namun aku berterimakasih denganmu, dan semoga aku bisa beramal dengan ilmu agar menjadi besar harapan bagi amalku untuk benar dan diterima-Nya. Dan aku akan menambah amalanku agar kelak dapat mengiringimu wahai jiwa bertemu dengan Rabb penguasa waktu dan alam seisinya ini.