Sebuah akar yang menjelma jutaan buah

3 Maret 2010

Dia pergi meninggalkan langkah-langkah pasti, yang lambat laun tertatih-tatih menjadi langkah-langkah keraguan.

Serasa ditikam ribuan pisau, menumpulkan niat yang tajam. Bukan oleh kerasnya hantaman pukulan, panasnya api, sayatan sembilu..tapi oleh lisan-lisan yang setiap detiknya menjelma menjadi penasihat dan bersarang di otak yang keruh.

Setiap semburan kata-kata bagaikan semburan api yang perlahan tapi pasti membakar hatinya. Membumbungkan emosinya. Semakin sulitnya menahan buncahan kalimat-kalimat kotor dan kasar yang ada di dalam dirinya, seolah-olah hatinya menjadi pembendung gunung yang meletup-letup dan akan meletus dengan sedahsyat-dahsyatnya.

Sindiran hingga makian atau cacian, dia terima dengan hati yang semakin terbakar. Akankah bertahan atau meletupkannya ?

Kalau saja ia tak mengingat akan kebaikan-Nya. Kalau saja ia tak ingat bahwa dirinya sedang diberi tambahan kekuatan berupa kesabaran. Yang akan menguatkannya…yang akan meninggikan derajatnya..yang akan membelanya di yaumil hisab nanti.

Benar saja, rupanya hujan dan badai cacian itupun mereda..saat puncak-puncaknya telah ia rasakan dengan kesabaran yang hebat.

Dan berakhirlah kehinaan, dan terbitlah kemuliaan.. hingga akhirnya ia berharap “Ya Allah balaslah aku dengan kebaikan-Mu atas musibah cercaan dan hinaan ini, dan gantilah musibah ini dengan yang lebih baik berupa kemuliaan hanya dari – Mu”

Akar itu pun menjelma…menjadi jutaan buah..buah kesabaran, buah kemuliaan, dan buah-buah kebaikan lainnya..

Akar itu adalah keikhlasan..

Iklan

2 Responses to “Sebuah akar yang menjelma jutaan buah”

  1. si3 Says:

    ikhlas adalah lupa, dan hanya ingat kepadaNya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s