Inti dari keikhlasan bermuara pada diri-Nya, Dia lah Allah, Yang menciptakan kehidupan ini.

Dia pula yang memberi balasan atas segala amal hamba-hamba-Nya.

Kata kunci dari keikhlasan adalah: “Allah”,” balasan dari -Nya SAJA”.

Keikhlasan adalah mengharapkan balasan dari Allah Saja, bukan yang lain.

Begitulah keikhlasan itu, membuang segala tujuan selain Allah.

Sehingga asas dari ikhlas itu adalah tauhid, yaitu menjadikan diri-Nya satu-satunya tujuan dalam ketaatan, ibadah, amalan hati, amalan badan, cinta, harapan, balasan, dan seluruh aktifitas di dunia ini.

Tak akan pernah orang yang menyekutukan-Nya bisa ikhlas, ini adalah suatu yang terang dan jelas.

Sedangkan orang yang menyatakan dirinya bertauhid belum bisa mencapai keikhlasan sebelum benar-benar meyakini di hatinya, bahwa hanya Allah lah yang akan membalas segala amalnya di dunia ini. Tak peduli bagaimana dia menjalani hidup ini, apakah bahagia ataupun menderita. Baginya, setiap amal yang dilakukannya tidak lain hanyalah mengharap balasan dari Allah.

Kesadarannya akan begitu kasih dan sayangnya Dia terhadap dirinya menyebabkan rasa cintanya pada Allah begitu mendalam. Hingga dia rela atas segala ketentuan dari-Nya. Dan balasan yang terbaik hanyalah dari-Nya saja.

Begitulah keikhlasan, terlahir dari kesadaran yang mendalam.. dari hati yang penuh cinta nan murni dan suci kepada Rabb yang Agung yaitu Allah.

Hanya kepada-Nya lah hamba bermohon segala balasan atas amal yang dilakukan hamba.

Belajar Ikhlas

11 Januari 2010

Sekian lama melupakan kata yang satu ini, rasanya bagaikan menemukan sesuatu yang sangat langka namun sangat berharga. Dia itu adalah IKHLAS.

Waktu semakin mengajak pada kepunahan, sedang usia terus bertambah.

Namun baru kusadari begitu besarnya pengaruh ikhlas dalam hidup ini.

Dia, melembutkan hati yang keras

Dia, melegakan hati yang telah kecewa dan sesaknya dada

Dia, membuat ku tersenyum setelah sekian lama dirundung kemurungan

Ikhlas itu lah yang kuyakini akan merubah hidupku, merubah pandanganku selama ini terhadap dunia dan segala aktifitas di dalamnya.

Ku kan berusaha mempelajari kata ini, semoga bisa istiqomah dalam belajar dan mengamalkannya..

Wahai Jiwa,

Apa kabarmu? mengapa hati ini selalu saja dirundung kekesalan, amarah dan kekecewaan. Bagaimana pula menghilangkannya?

Jiwa:

Kabar baik wahai Diri. Tak Perlu lah risau akan sempitnya hati dan sesaknya dada. Karena betapa sakitnya itu hanyalah sementara dan pasti kan berlalu..meskipun dia akan menghampirimu lagi.

Namun ketahuilah wahai diri,

Pangkal dari kesempitan hati dan sesaknya dadamu itu adalah kekecewaan.

Ya, engkau telah kecewa wahai diri. Engkau kecewa…atas segala apa yang telah engkau lakukan selama ini tidak mendapatkan balasan yang sesuai dengan bayanganmu.

Ya, engkau telah membayangkan begitu indahnya balasan atas segala apa yang kau lakukan.

Sebenarnya jika kau tak salah dalam membidik balasan, tentu kau tak akan kecewa. Karena sebaik-baik pemberi balasan hanyalah Dia yang kuasa, yang memberi balasan sesuai amal yang dilakukan hamba-Nya. Bahkan memberikan berlipatganda balasan.

Ya, engkau telah salah kepada siapa engkau meminta balasan…

Ya, engkau telah melupakan … KEIKHLASAN …

Kepada orang tua yang sering kali diacuhkan oleh anaknya..

Yang tetap mencurahkan kasih sayangnya meski sang anak tak menghiraukannya..

Yang tetap rela berkorban demi sang buah hati…meski cintanya pada sang anak bertepuk sebelah tangan…

Kepada anak yang terus berbakti, meski sang orang tua tak lagi memperhatikannya..

Yang tetap khidmat pada orang tuanya

Yang tetap menaruh rasa hormat padanya…meski cintanya bertepuk sebelah tangan

Kepada para pemimpin yang telah berbuat banyak untuk para karyawannya

Meski para karyawannya tak menaruh simpati bahkan seringkali menggunjingkannya dan menuduhnya macam-macam

Yang tetap menghargai hak karyawannya..meski mereka melalaikan kewajibannya

Kepada para karyawan yang dengan istiqomah memegang amanahnya

Yang tetap menghormati para pemimpinnya, meski mereka dizhalimi dengan berbagai cara

Yang tetap bersyukur karena telah diberi lapangan kerja, meskiĀ  para pemimpin tersebut tidak mempedulikan hak karyawan

Kepada para kepala keluarga yang telah mencurahkan sepenuh tenaga dan keringatnya untuk keluarganya

Yang tetap bertanggungjawab atas keluarganya, meski anak dan istrinya tidak menghargainya

Yang tetap sangat mencintai keluarganya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan…

Kepada anak dan istri yang merindukan sang kepala keluarga

Yang dengan setianya menunggu di rumah, meski sang kepala keluarga enggan untuk pulang dan justru pergi ke tempat yang hina

Yang dengan penuh cinta menjaga nama baiknya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan..

Kepada mereka…kepada mereka…yang hanya berharap balasan dari Rabb nya.

Begitulah, Keikhlasan teruji…

Sesungguhnya jiwa yang tak terjaga bagaikan tempat sampah

Apa saja masuk ke dalam relung jiwa. Namun tak satupun yang bermanfaat. Bisikan yang mengganggu jiwa, yang mengkerdilkan jiwa hingga melemahkan jiwa bahkan mematikannya. Itulah kerancuan dalam berfikir

Ya, bisikan yang meracau dan berkecamuk di jiwa meluluhlantakkan bangunan ketenangan di jiwa.

Seringkali saya melakukan blog walking, dan melihat saudara-saudaraku berdebat di khalayak ramai. Memperdebatkan ah bukan tapi berperang argumen untuk mencari yang menang dan yang kalah. Sayang sekali.

Bukan itu yang jiwa inginkan, bukan itu. Jiwa hanyalah membutuhkan ketenangan..bukan peperangan argumentasi yang berkecamuk di jiwa.

Satu saja, saat berkecamuk dan timbul hasrat untuk berdebat, berperang argumen..ingat saja, bahwa, engkau wahai jiwa..akan dimintakan pertanggungjawaban kelak di hari dimana segala amal dihisab

Keikhlasan Cinta

5 Januari 2010

Dan bila cinta telah tertanam di hati

Dan pengorbanan telah diberikan

Satu kata lagi yang mesti ada di hati

Yang tak boleh tidak dihadirkan

Keihlasan Cinta…

Tak semudah seperti yang dibayangkan

Keikhlasan Cinta…

Tak semudah seperti yang diucapkan

Keikhlasan Cinta………………..

Saat balasan tak sesuai yang diharapkan

Saat rasa tak sesuai yang diinginkan

Begitulah keikhlasan cinta diuji

Begitulah keikhlasan cinta dicoba

Duhai jiwa, waktu selalu berjalan maju tak pernah mundur..lambat laun engkau akan meninggalkan dunia menuju ke alam yang kekal.

Saat itu apa yang kau butuhkan di alam sana?

Jiwa: wahai diri, sungguh sebelum alam yang kekal ada tempat bersinggah diantara dua alam. disana aku terputus sudah dengan dunia. Namun aku masih berharap banyak agar aku mendapatkan kebahagiaan di alam kekal nanti dan di alam persinggahanku kelak.

Apa itu wahai jiwa? mumpung engkau masih hidup di dunia ini..maka utarakan lah wahai jiwa..

Jiwa: Ya benar, selagi raga ini masih terpaut dunia..maka akan ku utarakan apa yang akan aku butuhkan di tempat bersinggah dan di alam kekal nanti..

Ketahuilah aku berharap amalan yang pernah kita buat di dunia ini bisa bermanfaat dan menemaniku di alam sana. Selain itu tidak lagi yang bisa kita lakukan agar kebahagiaan bisa ku raih.

Namun, aku butuh orang lain saat aku tak lagi di dunia ini.

Doa anak ku, orang tua ku, isteri ku, kakak-adik ku, kerabat ku semuanya..maka doakanlah kebaikan untukku..

Apabila aku memiliki hutang..maka sampaikanlah pada anakku..lunasilah..semoga Allah membalas kebaikan kalian..

Apabila aku memiliki warisan..maka bagilah sesuai kitabullah..

Wasiatku dan nazar yang pernah kujanjikan..tolonglah dilaksanakan..

Teruskanlah kebaikan-kebaikan yang pernah aku kerjakan, semoga orang yang mencontohnya menjadikannya amal yang selalu mengalir bagiku..

Lanjutkanlah wahai anakku…untuk meneruskan hubungan silaturahim ke kerabat-kerabatku semasa aku hidup di dunia..

Dan tolong jagalah nama baikku, pabila aku telah mencoreng nama baikku sendiri..maka perbaikilah..sungguh aku akan bahagia disana karenanya

Saat ragaku terbujur kaku menjadi mayat..maka jadikanlah anakku sebagai imam sholat .. agar aku berbangga karenanya..

Terakhir, sempurnakanlah kebahagiaanku ini dengan terus menjadi anak yang sholeh…